Empat Tokoh Bahas “Oase Gelap Terang Indonesia” di Reuni Nasional FAA PPMI

Penulis : -
8d254d09-3adc-45e6-8f19-5feda0966f83

MALANG, TRIMSATINEWS – Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) kembali menggelar Reuni dan Seminar Nasional di Auditorium Universitas Brawijaya, Malang, pada Sabtu (25/10/2025). Tahun ini, kegiatan tersebut mengangkat tema “Oase Gelap Terang Indonesia” — sebuah refleksi atas situasi bangsa yang tengah dihadapkan pada beragam tantangan sosial, ekonomi, dan politik.

Empat tokoh nasional hadir mengisi forum tersebut, yakni Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, Pakar Hukum Tata Negara Bivitri Susanti, dan Aktivis Sosial Inayah Wahid. Masing-masing membedah persoalan bangsa dari perspektif yang berbeda, namun berpijak pada semangat yang sama: mencari terang di tengah situasi gelap negeri ini.

Dalam pidato pembukaannya, Prof. Widodo menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada pemerataan kesejahteraan. “Selain itu penduduk miskin masih banyak, sehingga muncul pertanyaan, siapa yang paling menikmati pertumbuhan ekonomi ini?” ujarnya.

Widodo menegaskan bahwa ketimpangan sosial dan ekonomi tak bisa dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia yang masih rendah. “Ketika pertumbuhan ekonomi tidak diiringi kualitas sumber daya manusia maka kesenjangan ekonomi dan sosial semakin lebar,” katanya.

Menurutnya, meski Indonesia memiliki lebih dari 4.000 perguruan tinggi, hanya sekitar 13 persen penduduk yang menempuh pendidikan tinggi. “Hambatan biaya dan pola pikir masih menjadi faktor utama penyebabnya,” jelasnya.

Ia juga menyoroti rendahnya kapasitas inovasi dan kewirausahaan nasional yang baru mencapai 3 persen populasi. “Termasuk daya kewirausahaan yang hanya sekitar 3 persen dari populasi, padahal negara maju berada di atas 10 persen,” ujarnya.

Kondisi tersebut, kata Widodo, menunjukkan perlunya strategi baru dalam memperkuat pendidikan dan industri nasional secara terintegrasi. “Seluruh pemimpin bangsa memiliki tanggung jawab historis untuk memastikan setiap potensi yang dimiliki Indonesia mampu menghasilkan kemakmuran yang berkelanjutan bagi seluruh rakyat,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyoroti pentingnya kesiapan generasi muda menghadapi era digital dan teknologi komunikasi. “Kita punya modal yang baik dan luar biasa, yaitu kekayaan alam dan talenta manusia untuk membawa satu proses yang inovatif dan kreatif di masa ini,” kata Nezar.

Ia menekankan bahwa kecerdasan buatan (AI) harus dihadapi dengan pengetahuan yang cukup, agar masyarakat mampu menggunakannya secara bijak. “Kita harus mempersiapkan generasi ke depan dengan pengetahuan yang cukup tentang teknologi ini. Adopsi teknologi harus terukur,” ujarnya. Menurut Nezar, generasi muda juga harus memiliki daya kritis terhadap arus teknologi. “Kecerdasan buatan tidak bisa memperbudak kita kalau kita punya critical thinking,” tegasnya.

Pakar Hukum Tata Negara Bivitri Susanti menyoroti tantangan dari sisi hukum dan demokrasi. Ia menyebut, kondisi Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja. “Salah satu sisi gelap kondisi saat ini adalah demokrasi sedang tidak baik-baik saja. Institusi demokrasi prosedural sekarang digunakan untuk kepentingan ekonomi kelompok tertentu,” ujarnya.

Namun di tengah situasi itu, Bivitri tetap melihat harapan dari munculnya gerakan masyarakat sipil dan kelompok anak muda yang kritis. “Gerakan masyarakat sipil, termasuk pers mahasiswa, menjadi oase di tengah kegelapan dan kekeringan demokrasi di Tanah Air,” ujarnya. Menurutnya, gerakan-gerakan tersebut perlu dijaga agar tidak padam. “Supaya oase ini tidak mengering dan menjadi padang pasir. Saya masih yakin bahwa yang menyelamatkan demokrasi Indonesia adalah masyarakat sipil, termasuk media, pers mahasiswa, kolektif anak muda, NGO, serikat yang kerja di tapak, semuanya,” ujarnya.

Sementara itu, Aktivis Sosial Inayah Wahid memandang situasi bangsa saat ini masih jauh dari cita-cita Indonesia Emas 2045. “Sulit bilang terang 2045 akan punya Indonesia Emas. Emasnya saja tidak kelihatan,” ujarnya.

Meski begitu, Inayah mendorong masyarakat sipil untuk tetap menyalakan semangat solidaritas dan menjaga nilai demokrasi. “Saya tahu itu tidak mudah, pasti capek. Kalau capek, istirahat tapi jangan berhenti. Saat ini mungkin masih kecil, tapi nanti akan membesar selama kita tidak menyerah,” ujarnya.

Inayah juga menyinggung perjuangan ibunya, Sinta Nuriyah, yang di usia 77 tahun masih aktif memperjuangkan demokrasi bersama Gerakan Nurani Bangsa (GNB). Pada 23 September lalu, Sinta Nuriyah bersama GNB mendatangi Polda Metro Jaya untuk meminta pembebasan para demonstran yang ditahan usai aksi Agustus 2025.

Tentang FAA PPMI
Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) berdiri pada 24 Januari 2015 di Jakarta. Wadah ini menghimpun ribuan alumni pers mahasiswa dari berbagai kampus di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua.

Selama satu dekade perjalanannya, FAA PPMI telah menjadi ruang konsolidasi gagasan dan jejaring antar mantan aktivis pers mahasiswa. Melalui berbagai diskusi dan forum publik, FAA PPMI terus menumbuhkan semangat idealisme dan kontribusi pemikiran bagi bangsa — menjaga api kritisisme di tengah perubahan zaman.

Ikuti Kami :
Posted in ,

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *