JAKARTA – Muktamar ke-V Halaqoh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Pesantren se-Indonesia yang digelar pada 31 Juli–3 Agustus 2025 di Universitas Darunnajah, Jakarta, diwarnai polemik menyusul dugaan keterlibatan preman dalam pengamanan acara. Kejadian tersebut menuai kecaman dari para peserta dan aktivis mahasiswa yang menilai kehadiran unsur non-formal itu mencederai marwah pesantren dan nilai-nilai intelektual keagamaan.
Sejumlah peserta mengaku merasa terintimidasi akibat kehadiran orang-orang tak dikenal yang diduga bukan bagian dari panitia maupun aparat keamanan resmi. Suasana forum yang semestinya menjunjung tinggi diskursus ilmiah berubah menjadi ajang tekanan psikologis.
“Ini forum santri dan mahasiswa, bukan tempat untuk praktik kekerasan jalanan. Kita tidak anti keamanan, tapi harus jelas siapa dan atas dasar apa mereka hadir. Ini menghina marwah pesantren yang dikenal bernorma dan bernilai,” tegas Ayub Abdullah, delegasi dari DIY.
Lebih jauh, peserta lainnya, Nauval Alfarisi dari salah satu kampus pesantren di Jawa Barat, menyayangkan insiden tersebut. Dalam forum ia menyatakan, “Ruang-ruang yang mengatasnamakan pesantren dan peradaban Islam telah tercoreng dengan praktik-praktik intimidasi hingga ancaman. Forum mahasiswa santri yang seharusnya berangkat dari amar ma’ruf justru dikalahkan oleh amar maksa.”
Menurutnya, mereka yang membiarkan situasi tersebut terjadi telah mengkhianati tradisi pesantren yang berakar pada ilmu, adab, dan keberanian moral. “Santri itu pejuang gagasan, bukan objek ketakutan,” imbuhnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Steering Committee (SC) maupun panitia pelaksana muktamar terkait insiden tersebut. Namun, sejumlah peserta mendesak klarifikasi dan investigasi terbuka atas dugaan masuknya premanisme ke dalam ranah forum intelektual.
“Ada dugaan keras terhadap keterlibatan preman dalam Muktamar V Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia. Dalam tradisi pesantren, tidak dikenal praktik premanisme. Maka kami menduga terdapat oknum SC dan panitia yang bertanggung jawab atas kejadian ini,” ujar Ayub menutup pernyataannya.
Peristiwa ini menjadi catatan kelam dalam pelaksanaan forum mahasiswa santri, sekaligus refleksi akan pentingnya menjaga integritas nilai-nilai pesantren dari segala bentuk praktik kekuasaan yang bertentangan dengan semangat keilmuan dan keadaban.
Reporter : Yusuf
Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.