JAKARTA, TRIMSATINEWS – Riyantono, Ketua Rayon Syrazi STFI Sadra sekaligus Anggota Komisi IV FORSEMA Se-Jabodetabek, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi yang terjadi di Bojonegara dan Pulo Ampel, Banten. Situasi yang berlangsung hari ini tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi telah berubah menjadi krisis ruang hidup dan ketidakadilan struktural. (17/11/2025)
Dalam pernyataannya, Riyantono menyampaikan, bahwa setiap hari warga dipaksa hidup berdampingan dengan truk tambang yang masuk dari wilayah Jawa Barat. Jalan rusak, debu menebal, kemacetan membuat aktivitas warga tersendat.
“Saya benar-benar geram dan kecewa melihat apa yang sedang terjadi di Bojonegara. Setiap hari warga harus hidup berdampingan dengan truk tambang. Yang jadi pertanyaan besar bukan ulah mereka, tapi mengapa mereka yang harus menanggung akibatnya?”
Penutupan tambang di Jawa Barat memang dilakukan karena berbagai pelanggaran serius seperti kecelakaan kerja dan kerusakan lingkungan. Itu keputusan yang tepat. Tetapi tidak ada skema jelas ke mana aktivitas tambang itu akan bergeser. Dan kini jawabannya terlihat arusnya dialihkan ke Banten, menjadikan Bojonegara dan Pulo Ampel sebagai penerima dampak terbesar.
Riyantono kembali menegaskan, bahwa Permasalahan tersebut bukan selesai, namun hanya dipindahkan tempatnya. Seolah-olah Banten ini tempat pembuangan beban, dan warga Bojonegara dipaksa menerima semuanya tanpa ruang bicara dan tanpa perlindungan yang memadai”, katanya
Permasalahan ini bukan hanya soal kendaraan besar yang melintas. Ini menyangkut ruang hidup warga — ruang yang pelan-pelan direbut oleh aktivitas industri.
“Persoalan ini jauh lebih besar daripada sekadar truk yang lewat. Ini tentang masyarakat yang harus bertahan dalam situasi yang bukan mereka ciptakan”, ucapnya.
Ketidakadilan seperti ini terus berulang. Yang memiliki kuasa aman, sementara masyarakat di wilayah pinggiran menanggung risiko.
“Keadilan tidak boleh hanya menjadi kalimat yang indah di atas kertas. Keadilan harus terasa lewat jalan yang layak, udara yang bersih, dan lingkungan yang aman bagi keluarga”, ucapnya.
Karena itu, berikut tuntutan yang mereka sampaikan secara tegas:
1. Menata ulang arus truk tambang agar tidak menumpuk di Bojonegara dan Pulo Ampel.
2. Menerapkan aturan yang tegas dan benar-benar ditegakkan, bukan hanya formalitas.
3. Melakukan perbaikan jalan dan infrastruktur yang rusak akibat aktivitas truk tambang.
4. Memperketat pengawasan terhadap izin dan operasional tambang, baik legal maupun ilegal.
5. Mendengarkan suara warga Bojonegara dan Pulo Ampel yang selama ini diabaikan.
Riyantono menyampaikan peringatan keras kepada pemegang kebijakan agar memperhatikan hal hal yang substansial.
“Jika kalian memilih diam, maka kalian ikut mendukung ketidakadilan ini”, tegasnya
Sebagai Ketua Rayon Syrazi STFI Sadra, anggota FORSEMA Se-Jabodetabek, dan sebagai warga yang peduli terhadap keadilan sosial, saya menutup seruan ini dengan tegas.
“Tegakkan keadilan. Hadirkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat”, tutupnya.
Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.