Jejaring Bekasi Pukul Polusi Tuntut Pensiunkan Segera Sumber Polusi di Bekasi

Penulis : redaksi
IMG-20260614-WA0049

KABUPATEN BEKASI, TRIMSATINEWS- Jejaring Bekasi Pukul Polusi Tuntut Pensiunkan Segera Sumber Polusi di Bekasi Ratusan orang muda dari Jejaring #BekasiPukulPolusi menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap krisis lingkungan yang kian parah di wilayah Bekasi. Melalui aksi kreatif di kawasan Car Free Day Kota Bekasi, Minggu (14/6/2026), mereka menuntut pemerintah pusat dan daerah segera memensiunkan sumber-sumber polusi utama yang mengancam keselamatan generasi mendatang.

Koalisi ini menyoroti tiga “bom waktu” polusi besar di Bekasi: TPST Bantargebang, PLTU Babelan, dan Kawasan Industri Jababeka.

TPST Bantargebang, tempat pembuangan akhir (TPA) utama sampah Jakarta, menjadi salah satu contoh paling nyata dari krisis ini. Selama lebih dari tiga dekade, lokasi ini telah mengalami ketimpangan ekologis dan ketidakadilan spasial yang mendalam.

“Gunungan sampah yang menjulang (warga lokal menyebutnya ‘bulok’) tidak hanya menjadi simbol dari krisis lingkungan, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang kompleks,” ujar Dendy Madya dari Artery Performa.

Menurut rilis UCLA Emmett Institute melalui STOP Methane Project pada April 2026, TPST Bantargebang menduduki peringkat kedua dunia sebagai penghasil gas metana terbesar. Data satelit Carbon Mapper mencatat fasilitas tersebut mengeluarkan lebih dari enam ton emisi metana setiap jamnya.

Dari arah utara, PLTU Babelan milik PT Cikarang Listrindo terus menyumbang polusi udara signifikan. Riset Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menunjukkan PLTU ini sebagai salah satu kontributor emisi PM2.5 tertinggi di wilayah Jakarta. Penelitian Aksi Muda Kolektif (April–Mei 2025) juga menemukan tingginya kasus batuk dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di masyarakat sekitar.

Sementara Kawasan Industri Jababeka masih bergantung pada energi kotor, meski pernah mengklaim akan menjadi kawasan industri net zero pertama di Asia Tenggara.

Dampaknya sangat nyata bagi warga Bekasi. Tercatat lebih dari 84.000 kasus ISPA dalam empat bulan pertama tahun 2025, dan 65.000 kasus pada tiga bulan pertama tahun 2026. Banjir parah yang merendam wilayah utara Bekasi hingga satu bulan di awal 2026 juga disebut sebagai konsekuensi krisis iklim, menempatkan Bekasi dalam tekanan Triple Planetary Crisis (krisis iklim, polusi, dan hilangnya biodiversitas).

Jejaring #BekasiPukulPolusi menolak solusi yang dianggap palsu seperti Pembangkit Listrik Sampah (PSEL) untuk Bantargebang serta substitusi biomassa atau RDF untuk PLTU batu bara. Mereka menuntut pensiun langsung PLTU Babelan, penanganan serius TPST Bantargebang, serta komitmen nyata nol emisi di Kawasan Industri Jababeka.

“Tidak ada tawaran lain saat ini. Pensiunkan sumber-sumber polusi Bekasi mulai dari utara PLTU Babelan, TPST Bantargebang, serta nol emisi Kawasan Industri Jababeka sekarang juga,” tegasnya (SUP) 

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *