ISNU dan IKA PMII Kota Bekasi Desak KPI Tindak Trans7, Serukan Boikot Program Xpose

Penulis : redaksi
IMG-20251015-WA0006

KOTA BEKASI, TRISMATINEWS- Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dan Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Kota Bekasi mengecam keras tayangan program Xpose yang ditayangkan Trans7, karena dinilai menyinggung kehormatan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Ketua ISNU Kota Bekasi, Ahmad Nurul Hadi, menyebut program tersebut telah melukai perasaan kalangan pesantren dan warga Nahdlatul Ulama. Ia menilai tayangan itu tidak pantas disiarkan dan mencerminkan lemahnya tanggung jawab media dalam menjaga etika penyiaran.

“Kami, Sarjana NU Kota Bekasi, mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk segera melakukan investigasi dan evaluasi terhadap program tersebut,” tegas pria yang akrab disapa Cak Nur.

Menurutnya, tayangan tersebut tidak hanya menyinggung pesantren Lirboyo, tetapi juga mencoreng dunia pendidikan Islam di Indonesia yang selama ini berperan besar mencetak guru dan tokoh agama.

“Pondok Pesantren Lirboyo bukan lembaga yang baru berdiri. Sudah sejak lama melahirkan ribuan alumni yang berkontribusi bagi bangsa,” ujarnya.

Cak Nur pun menyerukan agar seluruh warga Nahdliyin, khususnya para sarjana NU di seluruh Indonesia, memboikot Trans7 beserta seluruh produk yang berada di bawah naungan korporasinya.

“Kami menyerukan kepada Sarjana NU di seluruh Indonesia untuk memboikot Trans7 dan semua produk yang tergabung dalam grup medianya,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris PC IKA PMII Kota Bekasi, Beny Surya, menyoroti lemahnya proses riset dan penyuntingan tim produksi program Xpose sebelum penayangan dilakukan.

“Tampak jelas tim Xpose Trans7 tidak melakukan riset yang mendalam mengenai materi yang disiarkan. Jangan sampai demi mengejar rating, mereka justru mengabaikan kode etik jurnalistik,” ujar Beny, yang akrab disapa Cole.

Ia juga menduga, sebagian materi dalam tayangan tersebut diambil secara serampangan dari internet tanpa verifikasi fakta yang memadai.

“Dari pengamatan kami, cuplikan yang ditampilkan tampak seperti hasil comotan dari internet yang keakuratannya patut dipertanyakan. Harusnya tim Xpose melakukan pengkajian dan riset lebih dulu, bukan asal ambil dan tayang,” pungkasnya.

Kedua organisasi tersebut menegaskan komitmennya untuk terus mengawal marwah pesantren dan mendesak media agar menjalankan fungsinya sebagai penyampai kebenaran, bukan pembentuk opini yang menyesatkan. (Sup) 

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *