Diduga Bela Teman yang Dirundung, Siswa SD Bekasi Alami Kekerasan dan Trauma Psikis

Penulis : redaksi
IMG-20251218-WA0034

KOTA BEKASI, TRIMSATINEWS – Kasus dugaan perundungan kembali mencuat di lingkungan sekolah dasar di Kota Bekasi. Seorang siswa kelas 3 SD Galatia, kawasan Harapan Indah, berinisial G (9), dilaporkan mengalami trauma psikis setelah diduga menjadi korban kekerasan fisik oleh teman sekelasnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada 29 Oktober 2025. Insiden bermula saat G menegur seorang siswa lain berinisial A yang disebut kerap mengejek dan merundung temannya yang yatim piatu. Namun, niat G untuk membela temannya justru berujung pada tindakan kekerasan yang dialaminya.

 

Ibu korban, Chelsea, mengungkapkan bahwa anaknya diserang di hadapan teman-teman sekelas. Ia menyebut, G ditendang sebanyak empat kali di bagian perut dan satu kali di kaki.

“Anak saya hanya ingin membela temannya yang sering dihina, tapi malah menjadi korban kekerasan,” ujar Chelsea saat ditemui, Kamis (18/12/2025).

Akibat kejadian tersebut, kondisi psikologis G disebut mengalami perubahan drastis. Anak yang sebelumnya ceria dan berprestasi itu kini sering menangis tiba-tiba, merasa cemas berlebihan, serta menunjukkan ketakutan mendalam.

“Kalau mendengar nama pelaku, dia langsung panik. Bahkan beberapa kali menangis saat berada di luar rumah. Pagi ini dia menolak sekolah karena takut bertemu pelaku, padahal ada acara Natal,” tutur Chelsea dengan suara bergetar.

 

Keluarga telah membawa G untuk mendapatkan pendampingan psikologis. Meski demikian, trauma yang dialami korban disebut masih membekas dan memengaruhi aktivitas sehari-harinya, termasuk keengganan untuk kembali ke sekolah.

Tak hanya itu, pihak keluarga juga menyoroti sikap sekolah yang dinilai kurang tegas dalam menangani kasus tersebut. Chelsea mengungkapkan bahwa perilaku kekerasan yang dilakukan oleh A diduga bukan kejadian pertama.

“Sejak kelas 1, anak saya pernah ditendang di bagian vital dan pinggang. Informasinya, ada sekitar enam siswa lain yang juga pernah menjadi korban, mulai dari ditendang, dipukul, ditampar, hingga diancam,” jelasnya.

Menurut Chelsea, sejumlah orang tua murid telah menyampaikan kekhawatiran dan berharap adanya langkah konkret dari pihak sekolah, termasuk evaluasi serius dan kemungkinan pemindahan pelaku demi menjamin keamanan siswa lain. “Kami melihat ada kesan pembiaran. Ini tidak bisa dianggap hal biasa,” tegasnya.

Atas kejadian tersebut, keluarga korban mendesak Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi untuk turun tangan. Mereka meminta perlindungan maksimal bagi korban serta evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan penanganan perundungan di sekolah.

“Kami hanya ingin anak-anak bisa belajar dengan aman dan nyaman. Jangan sampai kasus seperti ini terulang dan menimbulkan korban berikutnya,” pungkas Chelsea.

Kasus ini menambah daftar panjang dugaan perundungan di lingkungan sekolah, sekaligus menjadi pengingat pentingnya peran sekolah, orang tua, dan pemerintah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, ramah anak, dan bebas dari kekerasan.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *