JAKARTA, TRIMSATINEWS – Sebagai Ketua Rayon Sabzavari, saya merasa terpukul dan marah atas tragedi yang terjadi di SMAN 72 Jakarta. Ledakan yang mengguncang masjid sekolah bukan hanya insiden kriminal—ia adalah jeritan yang selama ini kita abaikan. Jeritan dari seorang siswa yang diduga menjadi korban perundungan, yang akhirnya memilih jalan paling kelam untuk menyuarakan rasa sakitnya.
Saya tidak ingin membenarkan tindakan pelaku. Tapi saya juga tidak bisa menutup mata terhadap akar masalahnya. Perundungan bukan hal sepele. Ia merusak jiwa, menghancurkan rasa percaya diri, dan bisa mengubah seorang anak biasa menjadi sosok yang merasa tak punya pilihan selain melawan dunia dengan cara yang tragis.
Sebagai bagian dari komunitas sekolah, kita semua bertanggung jawab. Guru yang mungkin terlalu sibuk dengan administrasi, siswa yang menertawakan tanpa tahu dampaknya, dan sistem yang gagal menciptakan ruang aman bagi mereka yang berbeda. Kita telah gagal mendengar sebelum suara itu berubah menjadi ledakan.
Saya menyerukan kepada seluruh sekolah di Jakarta, bahkan di Indonesia: mari kita ubah cara kita melihat perundungan. Ini bukan sekadar pelanggaran tata tertib. Ini adalah ancaman terhadap masa depan anak-anak kita. Kita butuh sistem pelaporan yang aman, konselor yang hadir bukan hanya di atas kertas, dan yang paling penting—budaya empati.
Tragedi ini harus menjadi titik balik. Jangan tunggu sampai luka yang kita abaikan berubah menjadi bencana. Dengarkan mereka yang diam. Rangkul mereka yang terpinggirkan. Karena satu anak yang diselamatkan dari perundungan, bisa jadi satu nyawa yang terhindar dari kehancuran.
Saya, Riki Martin, tidak akan diam. Dan saya harap, kalian juga tidak.
Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.