KABUPATEN BEKASI, TRIMSATINEWS – PT Jababeka Tbk (KIJA) dan PT Pertamina (Persero) memperkuat kolaborasi transformasi menuju kawasan industri hijau dan bersih melalui pemanfaatan energi bersih, pengolahan limbah menjadi energi, serta hidrogen untuk industri dan transportasi.
Kolaborasi ini disampaikan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono dan Dirut Jababeka Infrastruktur Didik Purbadi dalam seminar “Ketahanan Energi dan Keberlanjutan dengan Transisi Energi: Menuju Net Zero Industrial Estate dengan Energy Security” di Java Palace Hotel, Kota Jababeka, Cikarang, 18 September 2026.
Seminar digelar Jababeka Net Zero Industrial Cluster Community (NZICC) bersama Pertamina. NZICC beranggotakan tenant Jababeka yang berkomitmen menuju net zero emission lewat program Jababeka Eco Week, seminar, dan kemitraan B2B serta G2B.
Didik Purbadi mengatakan Jababeka merupakan pionir kawasan industri swasta pertama di Indonesia sejak 1989 dengan konsep Eco-Industrial Estate. Saat ini dihuni 2.000 perusahaan multinasional dari 36 negara.
Infrastrukturnya dibangun berkelanjutan, mulai dari pembangkit listrik swasta pertama berbahan gas tanpa batu bara sejak 35 tahun lalu, WTP yang pakai air permukaan, IPAL terpadu pertama di Indonesia, hingga dry port untuk efisiensi logistik dan pengurangan emisi ODOL.
Jababeka juga mencatat 1,1 juta lapangan kerja dengan pendapatan per kapita US$35.000 dan berkontribusi 22-45 persen ekspor manufaktur nasional. Karena itu ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional.
Inovasi terbaru, PLTS atap 230 kWp di WTP Jababeka kerja sama dengan Pertamina NRE sejak 2023 telah hasilkan 858,21 MWh atau setara pengurangan emisi 734 ton CO2e. Hingga September 2026, 23 perusahaan di Jababeka telah pasang PLTS dengan total 14,5 MWp.
Direktur Pertamina Agung Wicaksono mengapresiasi komitmen tersebut. Ia menyebut kolaborasi sudah dirintis sejak B20 Summit 2022 dan WEF Davos. Tahun ini fokus pada penyediaan energi hijau berupa gas pipa, biometana bersertifikat ISCC, PLTS plus BESS, dan kredit karbon, serta penjajakan hidrogen hijau untuk TOD City.
“Memasuki 2027, kami fokus kembangkan alternatif energi hijau lain seperti hidrogen, biometana, hingga potensi panas bumi,” kata Agung.
Ia mencontohkan tenant Unilever yang kembangkan biometana bersama PGN dan Astemo yang PLTS-nya naik dari 1,2 MW menjadi lebih dari 2 MW.
“Kami yakin dengan dukungan Jababeka Infrastruktur, komitmen para tenant ini dapat terwujud,” ujarnya.
(Sup)