“Ilmu Kudu” dan Kehangatan Tanpa Wi-Fi: Kisah Ayil Merawat Kopi Yil di Narogong

Penulis : redaksi
kopiyil

KOTA BEKASI, TRIMSATINEWS – Di sebuah sudut Taman Narogong, Rawalumbu, Bekasi, berdiri sebuah kedai kopi dengan logo tak biasa: siluet wajah pemiliknya sendiri. Kedai itu bernama Kopi Yil, sebuah ruang sederhana yang lahir di tengah riuhnya ketidakpastian dunia pada November 2020.

Ketika banyak usaha kedai kopi berjatuhan diterpa badai pembatasan pandemi COVID-19, Muhammad Syabudin atau yang akrab disapa Ayil malah nekat memulai langkahnya. Pria yang juga aktif sebagai aktor teater di kelompok Lebteko dan Arteri Performa ini memutuskan mengolah modal tersisa bersama kekasihnya saat itu untuk mendirikan Kopi Yil.

Nama kedainya pun lahir secara jujur dari celetukan masa kuliah. “Kenapa dinamakan Kopi Yil? Jadi orang kalau mesan kopi tuh kayak nyuruh, Yil, kopi dong Yil. Terus ada teman yang ngasih saran, Udah namanya Kopi Yil aja,” kenang Ayil.

Logo kedainya pun dipilih karena kebingungan yang menggelitik. “Gua nglihat coffee shop logonya cangkir, teko, atau biji kopi. Ya udahlah, pakai muka sendiri aja. Natural aja karena pusing mau nyari logo apa,” lanjutnya sambil tertawa.

Penyegelan dan Rezeki “Ilmu Kudu”

Langkah awal Kopi Yil tidaklah mulus. Di awal berdirinya, kedai ini harus berhadapan dengan ketatnya aturan pembatasan sosial. Bahkan, kedainya sempat disegel pihak berwajib hingga tiga kali.

“Gimana ya, itulah urusan saya pribadi dengan Satpol PP. Tapi mau bagaimanapun, gua harus survive kan untuk Kopi Yil,” ungkap Ayil.

Rahasia resiliensi Kopi Yil bertahan hingga lima tahun lebih rupanya berakar pada satu filosofi lokal yang dihadiahkan oleh seorang temannya.

“Ada teman yang nyeletuk. Lu kayaknya penganut ilmu kudu. Kudu apa maksud gua? Terus dia bilang, Ya lu kayaknya kudu sabar, kudu konsisten, kudu bertahan, terus ya kudu yang lainnya. Menurut gua asik juga, ilmu kudu. Kalau kata orang Bekasi, kudu kan artinya harus,” papar Ayil.

Prinsip “ilmu kudu” itu ia terapkan dalam operasional sehari-hari. Ia memilih menjalankan sendiri fungsi pemilik, barista, hingga pelayan. “Yang menjadi pembeda adalah rasa. Alhamdulillahnya Kopi Yil itu yang buat kopinya ya gue sendiri selaku owner, barista, dan klien. Customer gue merasa punya nilai lebih karena yang disajikan itu buatan si pemilik,” jelasnya.

Tak hanya itu, Ayil memegang teguh komitmen untuk selalu hadir bagi pelanggannya.

“Prinsipnya, walaupun untung sedikit, toko harus tetap buka,” tegasnya. Untuk memberi tahu pelanggannya, ia punya ritual rutin mengunggah foto kopi di Instagram setiap pukul 5 sore. “Gue konsisten ngabarin ke followers bahwa Kopi Yil buka. Itu jadi pesan tersirat buat pelanggan,” tambahnya.

Rumah Hangat Tanpa Wi-Fi dan Colokan

Di tengah tren kedai kopi modern yang berlomba menyediakan fasilitas internet cepat dan tempat pengisian daya, Kopi Yil justru mengambil jalan berseberangan. Kedai ini tidak menyediakan Wi-Fi dan membatasi colokan listrik.

“Cuma di Kopi Yil yang orang-orang datang enggak pengin ngecas, tapi penginnya ngopi aja sambil ngobrol,” kata Ayil.

Keheningan dari gawai itu digantikan oleh riuk perbincangan hangat. Kopi Yil bertransformasi menjadi simpul ruang bagi komunitas aktivis lingkungan seperti kolaborasi dengan Berdikari Space serta titik kumpul para seniman teater, sastra, dan musik independen di Bekasi.

Bagi para pelanggan setianya, Kopi Yil telah berkembang dari sekadar kedai kopi menjadi tempat pulang. Ayil menyaksikan langsung perjalanan hidup para pengunjungnya selama bertahun-tahun.

“Kopi Yil ini menjadi rumah. Artinya, di manapun pelanggan pergi ke tempat lain, dia akan tetap pulang ke rumah. Di sini ada pelanggan dari dia masih sekolah, kuliah, pacaran, nikah, sampai ngelamar kerja. Gua penginnya ya itu, kayaknya gua harus jadi legend,” tuturnya penuh rasa syukur.

Pesan untuk Pemula: Eksekusi Modal dan Tekad

Melihat perjalanan kedainya dari masa-masa awal yang hanya bermodalkan lapak tong sederhana hingga memiliki fasilitas yang makin layak, Ayil membagikan pandangannya bagi siapa saja yang ingin memulai usaha.

“Sebenarnya modal itu penting banget, selain tekad. Daripada kita bertanya-tanya gua enggak ada modal gimana dong, ya cari aja dulu modalnya. Mulai aja dulu dari yang kecil dan dari yang ada,” pesannya.

Ke depan, Ayil memimpikan Kopi Yil terus mengepakkan sayapnya tanpa kehilangan ruh kehangatannya.

“Gua pengin ada space literasi, galeri merchandise, dan kolaborasi karya tangan bersama teman-teman,” tutup Ayil mengurai harapannya. (Sup)

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *