JAKARTA, TRIMSATINEWS– PT Sugity Creatives berkolaborasi dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), khususnya Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang, menggelar seminar dan workshop penerjemahan yang diikuti sekitar 250 peserta di Aula Bung Hatta, UNJ.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi mahasiswa Bahasa Jepang agar semakin siap menghadapi kebutuhan dunia kerja, khususnya dalam mendukung hubungan industri Jepang-Indonesia yang terus berkembang.
Dalam kegiatan tersebut, Wakil Dekan dan Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang UNJ menyampaikan pentingnya mahasiswa meningkatkan keterampilan bahasa yang relevan dengan perkembangan industri 4.0.
Salah satu kompetensi yang dinilai semakin dibutuhkan adalah kemampuan penerjemahan, mengingat banyaknya kebutuhan tenaga kerja yang mampu menjembatani komunikasi antara perusahaan Jepang dengan sumber daya manusia di Indonesia.
Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang UNJ menambahkan, kemampuan penerjemahan juga menjadi bagian dari profil lulusan yang dikembangkan program studi, yakni menghasilkan penerjemah pemula bahasa Jepang.
“Melalui kegiatan seminar ini, kami turut berkontribusi terhadap program SDGs 4, yaitu memfasilitasi mahasiswa untuk mendapatkan pendidikan berkualitas sesuai dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.
Ia menambahkan, lulusan Pendidikan Bahasa Jepang UNJ juga telah banyak berkiprah di berbagai lembaga pelatihan kerja (LPK), termasuk OCI, maupun perusahaan multinasional Jepang.
Sementara itu, pemateri utama seminar, Dudung Sahdu, General Manager PT Sugity Creatives sekaligus salah satu pendiri LPK One Creative Indonesia, menekankan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara kerja penerjemah.
Menurutnya, penerjemahan Bahasa Jepang di era AI tidak cukup hanya dengan memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lainnya.
“Dalam era AI, penerjemahan Bahasa Jepang bukan sekadar memindahkan kata, tetapi memahami makna, konteks, pragmatik, dan budaya,” ungkap Dudung.
Ia menjelaskan, calon guru Bahasa Jepang sekaligus calon penerjemah perlu memiliki translation literacy, termasuk kemampuan menggunakan sekaligus mengevaluasi teknologi AI secara kritis.
Selain kemampuan bahasa, kompetensi budaya, pedagogi, teknologi, dan etika juga menjadi bagian penting yang harus dimiliki mahasiswa.
“AI membantu menerjemahkan bahasa, tetapi guru membantu siswa memahami makna,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, HSE & CSR Manager PT Sugity Creatives, Tommy Prastowo, memberikan pengarahan mengenai pentingnya seorang penerjemah memiliki kemampuan di luar aspek kebahasaan.
Menurutnya, penerjemah yang akan bekerja di lingkungan industri juga perlu memahami berbagai aspek pendukung, termasuk budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta pengetahuan dasar penggunaan alat pemadam api ringan (APAR).
Hal tersebut dinilai penting karena penerjemah di lingkungan industri tidak hanya berperan sebagai pengalih bahasa, tetapi juga menjadi bagian dari proses komunikasi yang berkaitan dengan keselamatan dan operasional perusahaan.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Sugity Creatives, Aritoshi Sato, menekankan pentingnya kemampuan memahami maksud dan budaya pembicara dalam proses interpreting.
“Interpreter bukan sekadar menerjemahkan kata, tetapi memahami maksud dan budaya pembicara, menyampaikannya dengan tepat kepada pendengar,” pesannya.
Menurutnya, ketepatan interpretasi memiliki peran penting, terutama dalam komunikasi bisnis dan hubungan kerja antara pihak Jepang dan Indonesia.
Kegagalan dalam menyampaikan pesan secara tepat, lanjutnya, bahkan dapat berdampak pada proses negosiasi dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman hingga konflik.
Kolaborasi PT Sugity Creatives dan UNJ tersebut diharapkan dapat memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri, sekaligus membekali mahasiswa dengan kompetensi bahasa, budaya, teknologi, serta pemahaman dunia kerja yang semakin kompleks di era AI. (Sup)