MATARAM, TRIMSATINEWS – Menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung 27 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kita Muda Nahdliyin (KMN) NTB menggelar diskusi kepemudaan bertajuk “Pesantren Inklusif dan Ruang Aman”.
Diskusi yang digelar di Kedai Inges, Kota Mataram, Jumat (18/7/2026) ini diikuti puluhan pemuda Nahdliyin. Agenda ini muncul sebagai respons atas keresahan terkait kasus kekerasan yang terjadi di salah satu pesantren di Lombok Tengah beberapa waktu lalu.
Dorongan Pesantren Inklusif Jadi Agenda PBNU
KMN NTB menilai penguatan pesantren inklusif dan penciptaan ruang aman bagi seluruh santri harus menjadi agenda strategis Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode mendatang.
Di tengah meningkatnya tuntutan terciptanya lingkungan pendidikan pesantren yang bebas dari kekerasan, perundungan, diskriminasi, dan pelecehan, KMN NTB memandang kepemimpinan PBNU harus lahir dari sosok yang memahami tradisi pesantren sekaligus mampu menghadirkan pembaruan tata kelola pendidikan Islam.
KMN NTB Dukung Gus Yusuf Pimpin PBNU
Koordinator Daerah KMN NTB, Akbar Rumi, mengatakan pesantren inklusif bukan konsep baru, melainkan pengejawantahan nilai-nilai luhur NU seperti rahmah, penghormatan martabat manusia, musyawarah, dan akhlakul karimah.
“Gagasan tentang pesantren inklusif dan ruang aman membutuhkan kepemimpinan yang memahami dunia pesantren dari dalam. Kami memandang Gus Yusuf hadir sebagai salah satu figur yang mampu menjawab kebutuhan tersebut melalui pengalaman, keteladanan, dan pengabdiannya di lingkungan pesantren,” ujar Akbar Rumi.
Menurutnya, Muktamar Ke-35 bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan, tetapi momentum strategis menentukan arah gerak NU dalam menjawab tantangan pendidikan pesantren, kaderisasi ulama, pemberdayaan umat, dan penguatan peran NU.
Atas dasar itu, KMN NTB menyatakan dukungan kepada K.H. Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf sebagai salah satu figur terbaik untuk memimpin PBNU. Pengalaman panjang Gus Yusuf sebagai pengasuh pesantren dinilai mampu memperkuat pesantren sebagai lembaga inklusif, berkeadaban, dan ruang aman bagi santri tanpa meninggalkan nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Dinilai Humanis dan Berintegritas
Akademisi Karliade Aji Putra yang hadir sebagai narasumber menambahkan, Gus Yusuf tidak hanya memiliki kapasitas mengelola organisasi, tetapi juga integritas moral dan keluasan wawasan kebangsaan.
“Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, Gus Yusuf berhasil menunjukkan bahwa pesantren merupakan pusat pembentukan karakter, pengembangan ilmu, dan kaderisasi ulama yang relevan menjawab dinamika masyarakat modern,” katanya.
Karakter kepemimpinan Gus Yusuf yang humanis juga dinilai jadi kekuatan. Ia dikenal dekat dengan santri, pemuda, akademisi, budayawan, dan masyarakat akar rumput. Dakwahnya memperkuat persaudaraan dan dialog, bukan sekat.
Ajakan ke Warga Nahdliyin
KMN NTB mengajak seluruh kader, santri, alumni pesantren, dan warga Nahdliyin di Indonesia untuk memberikan dukungan moral kepada Gus Yusuf.
Bagi KMN NTB, dukungan ini adalah ikhtiar menghadirkan kepemimpinan PBNU yang berpijak pada ilmu, akhlak, sanad keilmuan, dan keberanian melahirkan gagasan untuk memperkuat NU sebagai pelopor peradaban Islam Nusantara.
Muktamar Ke-35 di Jombang diharapkan menjadi titik awal lahirnya kepemimpinan yang memperkuat persatuan jam’iyah, menjaga marwah organisasi, serta membuat NU semakin responsif terhadap tantangan zaman. (Sup)